
Analisis Indria Febriansyah – Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesi
JAKARTA – Dalam dinamika politik nasional yang kerap diwarnai tarik-menarik kepentingan elite, tidak semua peran strategis tampil di panggung utama. Sebagian justru bekerja dalam senyap, mengelola konflik, merajut kompromi, dan memastikan negara tetap berjalan di jalurnya. Salah satu figur yang memainkan peran tersebut adalah Sufmi Dasco Ahmad, Wakil Ketua DPR RI.
Di tengah polarisasi politik yang sempat menguat pasca-pemilu, Dasco muncul sebagai aktor kunci stabilisasi politik, terutama dalam relasi antara parlemen, pemerintah, dan partai-partai besar. Ia jarang tampil dengan retorika keras, namun dikenal luas di kalangan elite sebagai negosiator yang memahami anatomi kekuasaan negara.
Menjaga Negara dari Konflik Elite Berkepanjangan
Menurut Indria Febriansyah, Ketua Umum Kabeh Sedulur Tamansiswa Indonesia, kontribusi Dasco harus dibaca dalam kerangka kenegaraan, bukan sekadar kepartaian.
“Negara tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang lantang di mimbar, tetapi juga oleh negarawan yang mampu meredam konflik elite agar tidak merugikan rakyat,” ujar Indria.
Dalam konteks itu, Dasco dinilai berperan sebagai penjaga keseimbangan politik nasional, terutama saat tensi antara oposisi dan pemerintah berpotensi mengganggu stabilitas demokrasi. Pendekatannya cenderung rasional dan kompromistis, menghindari politik konfrontatif yang bisa berujung pada kebuntuan institusional.
Arsitek Parlemen dan Konsolidator Demokrasi
Sebagai Wakil Ketua DPR RI, Dasco dikenal memiliki penguasaan mendalam terhadap mekanisme internal parlemen. Ia terlibat aktif dalam pengelolaan fraksi, komunikasi lintas partai, hingga pengawalan legislasi strategis.
Indria menilai peran ini krusial dalam sistem demokrasi multipartai seperti Indonesia. “Pembangunan nasional tidak mungkin berjalan jika parlemen terus-menerus berada dalam konflik. Di sinilah peran Dasco sebagai arsitek politik parlemen menjadi penting,” katanya.
Alih-alih memposisikan DPR sebagai arena pertarungan politik tanpa ujung, Dasco mendorong parlemen tetap berfungsi sebagai lembaga negara yang menopang pemerintahan secara konstitusional.
Rekonsiliasi Politik sebagai Jalan Kenegaraan
Salah satu momen penting yang menegaskan peran Dasco adalah keterlibatannya dalam rekonsiliasi politik nasional, khususnya ketika Partai Gerindra dan Prabowo Subianto memilih masuk ke dalam pemerintahan.
Langkah tersebut menuai pro dan kontra. Namun bagi Indria, keputusan itu mencerminkan kedewasaan bernegara. “Negarawan sejati tahu kapan harus berkompetisi dan kapan harus merapat demi kepentingan bangsa,” ujarnya.
Dalam perspektif ini, Dasco tidak terjebak pada oposisi ideologis permanen maupun loyalisme buta, melainkan mengambil posisi kepentingan negara di atas ego politik.
Kontribusi Tidak Langsung terhadap Pembangunan Nasional
Meski bukan teknokrat pembangunan, kontribusi Dasco terhadap pembangunan nasional dinilai nyata melalui pengamanan politik dan legislasi. Stabilitas parlemen dan harmonisasi dengan pemerintah menjadi prasyarat utama agar program pembangunan dapat berjalan berkelanjutan.
“Rakyat sering tidak melihat bahwa aspirasi di terima langsung di eksekusi, bantuan bisa turun, dan program negara bisa berjalan karena konflik elite berhasil dikelola,” kata Indria. “Di titik itulah kontribusi politik Dasco bekerja.”
Dasco Negarawan Sistemik, Bukan Simbolik
Indria menyimpulkan bahwa Sufmi Dasco Ahmad adalah contoh negarawan sistemik figur yang bekerja menjaga mesin negara tetap hidup, meski tanpa sorotan besar.
“Sejarah sering lebih ramah pada tokoh simbolik. Tapi negara justru bertahan karena mereka yang bekerja di balik layar, menjaga keseimbangan, dan menahan ambisi agar tidak merusak sistem,” pungkas Indria.

Dalam lanskap politik Indonesia yang kompleks, peran seperti ini kerap luput dari perhatian publik. Namun tanpa negarawan yang mampu merawat stabilitas, demokrasi dan pembangunan berisiko kehilangan fondasinya.



